Syekh Muhammad Bahauddin An Naqsabandiy
Ra. Adalah seorang Wali Qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa
Qoshrul ‘Arifan,Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn
Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia lahir di Qasrel
Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharram tahun
717 H/1317 M. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina
Al-Husain RA.
Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah
dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan Al-Hasan
biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk plural
dari kata sayyid) sesuai dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA,
''Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid.''
Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera
dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya
dengan gembira. As Samasiberkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu
bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati
menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika
beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di
situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum SyekhAs Samasi wafat,
beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai khalifahnya.Setelah gurunya wafat, dia
pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa
tempat kelahirannya. Setelahbelajar dengan Syekh Baba As Samasi (silsilah ke
13), Naqsyabandi belajar ilmu tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf,
yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke- 14). Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a
sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.
Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang
Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian
dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu
itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk
bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada
beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain
Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung
bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu
hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa
cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan
sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang
luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan
kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdal, yang
amat tinggi hakikat dan marifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan
sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga
ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur
pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh)
hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan ada
suluk yang teguh. Syekh Naqsyabandy wafat pada malam Senin Tanggal
3 Rabi’ul Awal tahun 791 H dalam usia 74 tahun.
Syekh Naqsyabandi meninggalkan banyak penerus, yang paling
terhormat di antara mereka adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Alauddin
al-Khwarazmi al-Bukhari al-Attar q.s dan Syaikh Muhammad bin Muhammad
bin Mahmoud al-Hafizi q.s, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis Risalah
Qudsiyyah.
