Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn
Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan
pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain
Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.
Ia dilahirkan pada tahun 371 H., sebagaimana yang tertera pada hampir semua buku biografi tentang dirinya. Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan dari Ali bin Abi Talib.
Ia dilahirkan pada tahun 371 H., sebagaimana yang tertera pada hampir semua buku biografi tentang dirinya. Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan dari Ali bin Abi Talib.
Diriwayatkan bahwa saat mengandung beliau
, usia ibunya 60 tahun. Ada yang menyatakan bahwa pada usia 60 tahun tidak ada
wanita yang bisa hamil lagi. Ibu beliau bernama Fathimah binti Syekh Abdullah
Ash-Shauma’i. Setelah lahir Syekh Abdul Qodir tidak mau menyusu pada saat bulan
Ramadhan, sehingga jika masyarakat tidak dapat melihat hilal penentuan bulan
Ramadhan, masyarakat mendatangi ayah Syekh Abdul Qodir. Jika ayah beliau
menjawab “hari ini anakku tidak menyusu maka orang-orangpun mengerti bahwa
bulan Ramadhan telah tiba”.
Beliau lahir dan tumbuh sebagai anak yatim. Ia menghabiskan fase pertama dalam hidupnya bersama ibunya. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M.
Beliau lahir dan tumbuh sebagai anak yatim. Ia menghabiskan fase pertama dalam hidupnya bersama ibunya. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M.
Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali, ia belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimi. Ia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.
Beliau adalah seorang 'alim.
Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak
memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat
kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah,
perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, "thariqah" yang
berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantara
perkataan Imam Ibnu Rajab ialah, " Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah
seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh,
baik 'ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan
karamah.
Diceritakan oleh Muhammad bin al-Khidir bin al-Husaini bahwa
ayahnya berkata,” Jika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberikan pelajaran
berbagai disiplin ilmu di majlisnya, maka perkataannya tak pernah terputus.
Tidak ada seorangpun yang berani meludah, mendengus, berdehem, berbicara,
maupun maju ke tengah majlis karena kharisma beliau.
Keagungannya membuat orang-orang yang hadir ikut berdiri jika
beliau datang ke dalam majlisnya. Karismanya membuat semua orang hening ketika
beliau memerintahkan mereka untuk diam sampai yang terdengar hanya hembusan
nafas mereka. Tangan orang-orang yang hadir dalam majlisnya sampai bersentuhan
dengan kaki orang lain. Beliau mengenali mereka satu persatu hanya dengan
memegang tanpa harus melihat wajahnya. Orang yang jauh sekalipun bisa
men-dengar ucapan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Bahkan beliau bisa menebak isi
hati seseorang dan memberi nasihat berdasarkan ucapan batin dalam diri-nya.
Konsepsi sufistik al-Jailani adalah
konsepsi sufistik yang murni, dilandasi oleh ketentuan syari’at Ilahi. Ia
melarang seseorang mencebur dalam dunia sufi sebelum orang itu matang dan kuat
syariatnya. Sebab, hubungan syari’at di antara thariqah, ma’rifah, dan haqiqah
adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. “Syari’at laksana
batang pohon, thariqah adalah cabang-cabangnya, ma’rifah adalah daunnya
sedangkan haqiqah adalah buahnya” Jadi untuk memetik buahnya seorang sufi harus
melalui tahap pengamalan syari’at dengan istiqamah.
