Secara
garis besar, Nurul Anwar melakukan hisab hakiki awal bulan dengan
langkah-langkah sbb:
- Menentukan posisi rata-rata Matahari dan bulan, yakni untuk wasat Matahari, Khoshoh Matahari, Wasat bulan, Khosoh bulan, dan uqdah bulan pada waktu terbenam matahari (Ghurub menurut waktu Istiwa’) untuk suatu tempat menjelang awal bulan qamariyah.
- Menghitung Thul Matahari dan Thul bulan.
- Menentukan waktu terjadinya Ijtima’ (Konjungsi)
- Menghitung Irtifa’ (Ketinggian) hilal.
- Menghitung arah terbenam matahari dan bulan
- Menghitung Simtul Irtifa’ (arah hilal ketika mataharai terbenam)
- Menghitung Muksul Hilal (Lama hilal diatas ufuk)
- Menghitung Nurul Hilal (Lebar Cahaya Hilal)
Keterangan
selengkapnya mengenai langkah-langkah diatas sebagai berikut:
- Menentukan Posisi rata-rata Matahari dan Bulan
Langkah-langkahnya
sbb:
- Menentukan awal bulan (qomariyah) apa dan tahun (Hijriyah) berapa yang akan dihitung, serta menentukan untuk lokasi mana. Kemudian dilacak data lokasi yang ybs, yakni lintang tempat (LT) dan bujur tempat (BT) nya.
- Menghitung matahari terbenam (Gurub) untuk lokasi ybs menurut waktu istiwa’ pada hari yang ke 29 menjelang bulan ybs (kita bisa menggunakan jadwal waktu solat).
- Mengambil data wasat Matahari, Khoshoh Matahari, Wasat bulan, Khosoh bulan, dan uqdah bulan dari data yang tersedia untuk tahun Tam (1 tahun yang lewat), bulan qoblal Tam (2 bulan yang lewat), hari ke 29 (kadang 28 atau 30), jam dan menit (waktu ghurub matahari) kemudian data tersebut dijumlahkan.
Hasil
penjumlahan adalah posisi rata-rata Matahari dan Bulan pada waktu gurub
matahari untuk Jepara (BT = 110 0 40′). Sehingga apabila dikehendaki
perhitungan untuk selain Jepara maka harus dilakukan koreksi terhadap data
posisi matahari dan bulan senilai selisih waktu antar jepara dan lokasi yang
dikehendaki itu / Fadlu Tulaini (SFT) yakni (110 0 40′ – BT) / 15 ).
Dengan catatan utuk lokasi disebelah barat Jepara ditambahkan, sedangkan untuk
lokasi ditimurnya dikurangkan.
- Mengambil Daqa’iqut Tafawut (DT = perata waktu ) dari daftar berdasarkan hasil penjumlahan wasat matahari setelah dikoreksi SFT. Perhatikan tanda positif (=) dan negatifnya (-).
- Menghitung gerak matahari dan bulan selama waktu DT tersebut.
- Gerak matahari dan bulan selama wanktu DT tersebut untuk mengoreksi (menambah atau mengurangi) hasil penjumlahan diatas menurut tanda yang ada pada DT yakni tanda = adalah tambah dan tanda – adalah kurang.
- Hasil koreksian inilah yang merupakan posisi rata-rata matahari dan bulan, yakni wasat Matahari (WS), Khoshoh Matahari (KM), Wasat bulan (WB), Khosoh bulan (KB), dan uqdah bulan (UB) pada waktu gurub matahari untuk lokasi yang telah ditentukan tadi,
- Menghitung Thul matahari (TM) dan Thul Bulan (TB)
Langkah-langkahnya
sbb:
- Mengambil beberapa koreksi atau Ta’dil, yaitu :
- Ta’dil Matahari (Td. Mt)
- Ta’dil pertama bulan (T1)
- Ta’dil Khoshoh Bulan3 (T. Khos3)
- Ta’dil Uqdah Bulan (T. uqd.)
- Sabak Matahari (sbk. Mt)
Diambil
dari daftar berdasarkan B0 atau khoshoh Matahari (KM)
- Menghitung Thul Matahari (TM) dengan rumus :
- TM = WM +/- Td.Mt
- Mengambil Ta’dil kedua bulan (T2)dan sabak bulan kedua (Sbk 2) dari daftar berdasarkan dalil Tsani yang diperoleh dari 2 (WB-TM) – KB
- Mengambil Ta’dil ketiga Bulan (T3) dan sabak pertama (Sbk.1) dari daftar berdasarkan KB3‘ (D3)
- KB3‘ = Kb + T1 + T2 + T. KHos
- Menghitung wast bulan Muaddal (WB’) dengan rumus :
- WB’ = WB + T1 + T2 + T3
- Mengambil Ta’dil keempat bulan (T4) dan sabak ketiga bulan (sbk3) dari daftar berdasarkan dalil Robi’ yang diperoleh dengan cara WB’ – TM
- Mengambil Ta’dil kelima Bulan (T5) dari daftar berdasarkan dalil Khomis atau Hishotul Ardl (HU), HU di hitung dengan rumus :
HU
= WB + T4 + UB + T. Uqd
- Menghitung Thul Bulan (TB) dengan rumus :
TB
= WB ‘ + WB’ + T4 + T5
- Menentukan Saat Terjadinya Ijtima’
Langkah-langkahnya
sbb:
- Menghitung Bu’dun Nayyirain (BN) dengan rumus :
BN
= TB – TM
- Menghitung sabak bulan (SB)dengan rumus :
- SB = (Sbk1 + Sbk2 + Sbk3)
- Menghitung titik Ijtima’ (T Ijt) dengan rumus :
- T ijt = BN / SB
- Menghitung waktu ijtima’ (Ijtima’) dengan rumus :
Ijtima’
= Gurub + 12 – T Ijt = = > (Waktu Istiwa’)
Hasil
ijtima’ ini dengan menggunakan waktu istiwa’ yakni menggunakan waktu matahari
hakiki. Sehingga apabila dikehendaki dengan WIB (misalnya) maka harus
dilakukakan koreksi dengan DT (Daqoi’iqut Ta’dil) dan interpolasi waktu WIB
yakni (BT – 105) : 15
IJTIMA’
= Ijtima’ + DT – Interpolasi Waktu = = > (Zone Time), atau yang lebih
ringkasnya: Saat Magrib WIB – T Ijt.
D.
Menghitung Irtifa’ul Hilal
Maksudnya
Irtifa’ul Hilal pada saat Magrib paska Ijtima’. Sebelum kita menentukan Irtifa’
ini terlebih dahulu kita harus mengolah data Matahari dan bulan karena dalam
perhitungan irtifa’ul hilal kita membutuhkan data tersebut
Contoh
mengetahui Irtifa`ul Hilal pada akhir Sya`ban 1431 H.
Thul
Matahari (TM) = 1370 41′ 34″
Thul
Bulan (TB) = 1420 7′ 44″
Dalil
Khomis (HU) = 2220 22′ 2″
Lintang
Tempat Pasuruan (LT) = 70 39′ Selatan
Pengolahan
Data Matahari
- Mail Awal Matahari (MM)
sin
MM = sin (sin TM x sin 230 26’40″) = 150 32′ 0.57″ Arah
Utara (mengikuti TM)
- Nisfu Qausin Nahar Matahari (NQNM)
Perselisihan
Arah : Cos NQNM = tan LT x tan MM – sec
LT x sec MM x sin 1013′ ( Daqoiq Tamkiniyah )
Cocok
: Cos NQNM = -(tan LT x tan MM + sec LT x sec MM x sin 10 13′)
NQNM
= 890 8′ 5.29″
- Qausul Baqi Matahari (QBM)
Sin
QBM = cos TM / cos MM = 500 8′ 14.39″
- Matholiul Falaqiyah Matahari (MFM)
Jika
TM = 000 – 900 Maka ( 1800 –QBM )
Jika
TM = 900 – 1800 Maka ( 1800 + QBM) = 2300
8′ 14.39″
Jika
TM = 1800 – 2700 Maka (3600 – QBM)
Jika
TM = 2700 – 3600 Maka ( Tetap )
- Matholiul Ghurub Matahari (MGM)
MGM
= MFM + NQNM = 3190 16′ 19.60″
- Mail Bulan 2 (MB2)
Tan
MB2 = sin TB x tan 230 26′ 40″ = 140 54′
26.75″ Arah Utara (mengikuti TB)
- Ardul Bulan Juz`I (ABJ)
Sin
ABJ = sin HU x sin 50 = 30 22′ 1.42″ Arah Selatan
(Mengikuti HU/Dalil Khomis)
- Ardul Bulan Mu`addal (ABM)
- Bila Arahnya cocok, ABM = ABJ + MB2
- Bila selisih bilangan yg besar dikurangi yg kecil (Arahnya mengikuti yg lebih Besar)
ABM
= 110 32′ 25.33″ Arah Utara
- Bu`dul Qomar 1 (BQ1)
Sin
BQ1 = cos 230 26′ 40″ x sin ABM / cos MB2
Arahnya Mengikuti ABM
BQ1
= 100 56′ 56.47″ Arah Utara (Mengikuti ABM)
- Nisfu Qausin Nahar Bulan (NQNB)
Perselisihan
Arah : cos NQNB = tan LT x tan BQ1
– sec LT x sec BQ1 x sin 10 13′
Sesuai
Arah : -cos NQNB = tan LT x tan BQ1 + sec LT x sec BQ1 x
sin 10 13′
NQNB
= 890 45′ 41.24″
- Mail Bulan 1 (MB1)
Sin
MB1 = sin TB x sin 230 26′ 40″ = 140 8′ 13.14″
Arah Utara (Mengikuti TB)
- Bu`dul Qomar 2 (BQ2)
BQ2
= ( MB1 + BQ1 ) /2 = 120 32′ 34.8″ Arah Utara
(Mengikuti TB)
- Qausul Baqi Bulan (QBB)
Sin
QBB = cos TB / cos BQ2 = 530 58′ 06.9″
- Matholiul Falakiyah Bulan (MFB)
Jika
TB = 000 – 900 Maka ( 1800 – QBB )
Jika
TB = 900 – 1800 Maka ( 1800 + QBB) = 2330
58′ 06.9″
Jika
TB = 1800 – 2700 Maka (3600 – QBB)
Jika
TB = 2700 – 3600 Maka ( Tetap )
- Matholiul Ghurub Bulan (MGB)
MGB
= MFB + NQNB = 3230 43′ 48″
Jika
MGB lebih Kecil Dari MGM maka bulan di bawah Ufuq
- Qausul Muksi (QM)
QM
= MGB – MGM = 40 27′ 28.54″
- Fadlul Dair (FD)
Fd
= NQNB – QM = 850 18′ 12.7″
- Irtifa` Bulan (IB)
Jika
selisih : sin IB = sin LT x sin BQ1 – cos LT x cos BQ1
x cos FD = 30 7′ 3.61″
Jika
cocok : sin IB = sin LT x sin BQ1 + cos LT x cos BQ1 x
cos FD
- Muksul Hilal (MH)
MH
= ( QM + IB ) /2 x 00 4′ = 00 15′ 09.7″
- Saat Maghrib Matahari (SMM)
Sin
SMM = sin MM / cos LT = 150 40′ 35.6″ Arahnya Utara (mengikuti MM)
- Simtul Irtifa` Bulan (SIB)
Cos
SIB = sin FD x cos BQ1 / cos IB = 110 29′ 33.3″ Arah
Utara (mengikuti BQ1)
Keterangan
: SIB Utara / Selatan
- Arahnya mengikuti LT, bila BQ1 arahnya sama dengan arahnya LT, dan IB bilangannya lebih kecil dari SIB
- Arahnya Tepat di Barat, bila bilangan IB sama dengan SIB
- Arahnya mengikuti arahnya BQ1, bila selain keterangan 1 + 2
- Al – Mahfud (M”)
M”
= SIB – SMM ( yg kecil dikurangi yg Besar,) = 40 11′ 2.3″
- Miring Bulan Terbit (MBT)
MBT=
SIB – SMM = (bila sama Arahnya, yg besar – yg kecil. + bila beda)= 4011’2.3″
- Hilal terlentang :
a.
bila SIB dan SMM cocok arah dan bilangannya.
b.
bila MBT tidak sampai 10
- Hilal Miring
- Berlawanan dengan arahnya MM, jika SIB dan SMM cocok arahnya dan SMM bilangannya lebih besar.
- Mengikuti arahnya MM, jika tidak sama dengan keterangan a.
- Hilal tegak lurus : bila IB kurang dari 2/3 SMM.
MBT=
40 11′.3″ Miring ke selatan
- Bu`dul Mutlaq (BQ)
BQ
= TB – TM = 40 26′ 10″
- Cahaya Bulan (CB)
CB
= BQ x 00 4′ + ABJ yang Munhathon = 00 21’6.67″
KESIMPULAN
:
Awal
bulan Ramadhan 1431 : Rabu Legi 11 Agustus 2010 M.
Ijtima’
: Selasa Kliwon 10 Agus 2010 M.
Waktu
Ijtima` : 10:26:35 WIS / 10:00:09 WIB
Azimut
Matahari : 150 40′ 35.6″ Utara titik barat
Arah
hilal : di Utara
Kemiringan
: Miring ke selatan
Tinggi
Hilal : 30 7′ 3.61″
Lama
Hilal : 00 15′ 09.7″
Cahaya
Hilal : 1/3 Jari
Markaz
Kitab : Jepara, 6o36′ LS / 110o40′ BT
Markaz
Garapan : Pasuruan, 7o39′ LS/112o56′ BT
